WAR IS PROFIT!

war

Dalam banyak kesempatan, mereka yang antipati pada segala bentuk interaksi dengan islam akan dengan sangat mudah menunjuk timur tengah sebagai gambaran karakter ummat islam. Chaos, bar bar, haus darah, serta hobi berkonflik. Benarkah?

Dua hari lalu sempat membaca tulisan menarik di laman New York Times (Artikel sejenis juga di muat di sputniknews.com), terkait pasar penjualan senjata global. Dibanding 2014 yang mencapai $89 Miliar, penjualan senjata di tahun 2015 ternyata menurun di angka $80 Miliar.

Tapi meski angka penjualan menurun ternyata Amerika dan Perancis tetap mengalami pertumbuhan nilai penjualan senjata, Amerika membukukan $40 miliar atau separuh dari angka penjualan global jauh di atas perancis yang hanya mencapai $15 miliar.

Yang menarik adalah daftar pembelinya, angka tertinggi pembelian tercatat Qatar dengan nilai mencapai $17 miliar, disusul mesir dan arab saudi pada ranking ke 2 dan 3. Kebetulan?

Anda tidak bertanya kenapa pasien terbesar pabrik senjata mutakhir negara2 tim-teng? Dijawab nanti..

Ketika di tanya penyebab konflik tak berkesudahan di timur tengah, kebanyakan akan menjawab tentang perebutan kekuasaan, konlik sektarian atau apapun yang para pengamat langganan televisi bilang.

Tapi jika melihat bisnis perdagangan senjata global yang menggiurkan, tak bolehkah jika kemudian muncul asumsi bahwa perang memang sengaja dibuat “kekal” untuk menjaga pasar perdagangan senjata?

Atau kepentingan segelintir orang borju kapitalis yang memang mendulang untung tak sedikit dari konflik konflik yang terpelihara?

1934 amerika dibuat gempar dengan pengakuan Jendral Smedley Butler, ex-panglima marinir US. Pengakuan yang kemudian dibukukan dan diberi judul “War is a Racket: The Profit Motive Behind Warfare”.

Jendral veteran perang dunia I ini menyebut bahwa ia didekati oleh beberapa kalangan berduit di amerika untuk menjalankan agenda mereka, melakukan kudeta dan menggulingkan F.D. Roosevelt kala itu yang kebijakannya mengancam kepentingan bisnis mereka.

Dalam buku ini juga disebutkan butler meyakinkan publik bahwa perang memang sengaja di pelihara demi segelintir orang yang rakus profit.

Meski laporannya di terima dengan baik oleh pemerintah,tapi tak pernah ada follow up. Hingga kemudian butler justru di serang habis-habisan oleh media yang menyebutnya sebagai pembohong, fitnah, dan pencari sensasi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: