Janin, Peramal, dan Keimanan Kita

otak

“Tidak mungkin ayat ini ditulis pada tahun 7 Masehi, karena apa yang terkandung di dalam ayat tersebut adalah fakta ilmiah yang baru diketahui oleh ilmu pengetahuan modern! Ini tidak mungkin, Muhammad pasti menggunakan mikroskop!” teriak Keith L Moore, Presiden AACA (American Association of Clinical Anatomi ) era 90an.

Profesor dalam bidang anatomi dan embriologi ini terkejut, penulis buku Clinically Oriented Anatomy yang menjadi literatur rujukan ilmuwan, dokter, fisioterapi dan siswa seluruh dunia ini ditunjukan sebuah tulisan (ayat) dalam alquran yang berbicara hal serupa oleh seorang muridnya.

“Tidak mungkin ayat ini ditulis pada tahun 7 Masehi, karena apa yang terkandung di dalam ayat tersebut adalah fakta ilmiah yang baru diketahui oleh ilmu pengetahuan modern! Ini tidak mungkin, Muhammad pasti menggunakan mikroskop!” sanggah sang profesor.

Mungkin dalam benaknya Muhammad ini adalah seorang peramal, atau apalah sampe bisa mendeteksi dan detail menceritakan tahapan proses embrio. Padahal sampai berabad-abad setelahnya isue ini jadi perdebatan para ilmuwan.

Nah, baru kemudian menjadi sedikit terang pada abad ke-20 ketika Streetes (1941) dan O’Rahilly (1972) pertama kali mengembangkan sistem pentahapan. Jika quran berbicara tiga lipat kegelapan, ternyata dimaksudkan kepada tiga pe­lapisan. Yaitu dalam lapisan dinding perut, dinding rahim, dan selaput janin.

Jika merujuk pada kalender masehi, maka kelahiran Rasulullah adalah tahun 570M. Sedangakan mikroskop baru ditemukan lebih dari satu milenium setelahnya dan kejelasan tentang tahapan janin dalam rahim baru mulai terang di abad 20.

Pernah bayangkan perkataan orang orang ingkar yang sejaman dengan Rasululullah? exactly! Muhammad adalah peramal!

Boleh jadi kejahiliyahan mereka membuat kebebalan mereka berlapis-lapis, maka adanya keimanan ini yang menyelamatkan saat nalar tak sampai.

Meski untuk mengetahu kebenarannya seperti proses janin ini atau merasakan langsung seperti tentang hari berbangkit manusia harus melewati masa-masa yang tak terjangkau oleh akal. Karena quran sejatinya yg turun pada Rasulullah adalah kalamulLah, perkataan Allah pemilik jagad raya.

Banyak ayat dalam alquran berbicara tentang hari kebangkitan, dan ini bukan perkataan ulama tapi alquran yang berbicara. Jika 2 ayat al mu’minun yang berbicara tentang janin mampu membuat profesor ahli embriologi bertekuk lutut dan beriman.

Seharusnya makhluq berakal seperti manusia tak perlu menunggu kematian hanya untuk percaya kebenaran tentang hari kebangkitan.

Jadi sungguh aneh mereka yang menyampaikan tentang hari kebangkitan disebut sebagai peramal. Padahal sejatinya yang disampaikan adalah kalamullah dalam alquran. Kemana keimanannya?

Manusia bertanya kepadamu tentang hari berbangkit. Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang hari berbangkit itu Hanya di sisi Allah”. dan tahukah kamu (hai Muhammad), boleh jadi hari berbangkit itu sudah dekat waktunya. ~ Al Ahzab : 63

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: