Rock Against Regime

green

Selain ramalan kartun The Simpsons tentang terpilihnya Trump sebagai presiden, mantan vokalis Black Flag juga pernah berujar sama di pertengahan 2015. Henry Rollins menyebut bahwa tindak tanduk US di kancah internasional bakal kena batunya dengan lahirnya presiden yang rasis dan pengujar kebencian yang kini tampaknya jadi penyesalan sebagian rakyat Amerika.

Para musisi di amerika kini layaknya pemandu sorak paling bersemangat mengusung penolakan terhadap trump. Musik musik terbaik yang selama ini di anggap lahir dari kondisi depresi dan penindasan mulai ramai-ramai menyuarakan histeria massa tentang penolakan trump. Rock, punk, blues soul dan jazz serupa menemukan habitat dan fungsi aslinya untuk “berteriak” di atas suara hati.

2014, sebenarnya penolakan serupa juga pernah disuarakan pada bush. Mike Fat NOFX mengumpulkan dedengkot dan biang punker amrik untuk membuat satu album kompilasi penolakan terhadap bush maka lahirlah album ROCK AGAINST BUSH. Dan di era trump ini, Billy Joe Amstrong yang dianggap paling berani melakukan penolakan dengan lantang menyuarakan “No Trump, No KKK, No Facist USA” pada panggung American music award yang disiarkan langsung ke seantero amerika.

Selain GreenDay, nama besar lain yang menyuarakan penolakan keras adalah AUDIOSLAVE. Setelah menyatakan diri bubar di tahun 2007 tim morello mengajak personil lain AUDIOSLAVE untuk reunian menyuarakan penolakan atas trump. Maka jadilah supergrup ini manggung dengan ganas di atas panggung konser bertitel “ANTI-DONALD TRUMP INAUGURATION BALL” bersama nama-nama beken seniman lainnya.

Suara riff gitar dan komposisi chord para musisi ini senantiasa selaras dengan apa yang ingin disuarakan rakyat kebanyakan. Ketika ada yang meresahkan dan dirasakan bertentangan dengan nurani mereka tak peduli lagi pada reaksi rezim pada kelangsungan band atau diri mereka. Mereka berani berdiri head to head dengan rezim dan dengan lantang menyuarakan “GUA GAK SUKA LO!”.

Negeri ini pernah punya “sejarah” nama besar musisi yang berdiri tegak menantang rezim dan melegenda. Ratusan ribu manusia memadati konser hanya untuk merasakan atmosfir “pemberontak” dalam syair-syair tajam nya.

Berbeda dengan NOFX atau AUDIOSLAVE apalagi segarang Greenday, yang tak ada ucapan selamat, tak ada bermesraan dalam satu frame foto, tak ada berhaha hihi dalam satu jamuan makan, apalagi berlagak buta atas apa yang menjadi jeritan suara rakyat kebanyakan.

Cuitannya di twitter tampaknya menyiratkan kini ia ingin hidup tenang di usia senja. Tak ada lagi bising suara rakyat menggemuruh yang mengganggu, atau peluh yang memburu para buruh yang membuatnya risau, yang darinya ia mendulang pundi-pundi kekayaan yang kini ia nikmati.
Bukannya bersuara lantang, kemunculan nya di TV kini hanya mengulum senyum manis dan berujar lembut “TOP KOPI NYA”

Legenda itu kini jadi dongeng basi dalam album kenangan…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: